Farah’s TOP 11 Reads For 2019

Daftar ini kembali lagi untuk tahun ke-3!


Melanjutkan tradisi dari tahun 2017 & 2018, berikut adalah daftar buku-buku berkesan yang singgah ke pangkuanku di tahun 2019. Meskipun tahun ini dipenuhi gejolak personal yang mempengaruhi pengalaman membacaku secara keseluruhan, aku bersyukur karena masih bisa dipertemukan dengan buku-buku enjoyable yang memberiku harapan dan (sedikit-banyaknya) mengubah caraku memandang dunia.
Daftar di bawah tidak ditulis berdasarkan ranking. Buku-buku dalam daftar ini diurutkan dari buku yang aku baca di awal tahun 2019;

11. This Is Going To Hurt – Adam Kay




Memoir mantan dokter OBGYN ini membuka awal tahun 2019-ku dengan penuh tawa & rasa geli. Tak hanya mengundang senyum, anekdot jenaka dari pengalaman Kay sebagai mantan dokter di NHS juga menawarkan sisi lain cerita yang tidak seindah kita kira. Penuturan terang-terangan Kay tentang alasan dibalik mundurnya dia dari dunia kedokteran di bagian penutup sendiri terasa begitu menohok bagiku. Bagian ini jugalah yang mengantarkan This Is Going To Hurt sebagai buku pembuka dalam daftar TOP 11 ini. 

Tulisanku tentang This Is Going To Hurt dapat dibaca di sini.

10. Harry Potter and the Prisoner of the Azkaban – J.K. Rowling



Aku pertama kali mengenal wizarding world dari delapan film adaptasi novel Harry Potter. Film ke-3 dalam rangkaian adaptasi ini sudah menjadi favoritku dari awal. Kenyataan ini tidak berubah ketika aku akhirnya membaca novel sumbernya. Harry Potter and the Prisoner of the Azkaban menawarkan keseruan petualangan tanpa beban yang begitu aku dambakan sebagai kanak-kanak sembari menyimbangkan unsur “berat” dalam cerita sehingga tidak membosankan ketika dinikmati oleh pembaca dewasa. Aku dapat membayangkan diri sendiri membaca ulang novel ini di tahun-tahun mendatang.

Aku sudah menulis tentang the Prisoner of the Azkaban dalam kiriman di bulan Juli ini.

9. The Seven Husbands of Evelyn HugoTaylor Jenkin Reid



Sosok Evelyn Hugo yang misterius & menarik hati hanya satu dari banyak hal yang membuat novel ini begitu mengesankan ketika dibaca. Gaya penulisan Taylor Jenkin Reid yang luwes dan mengalir juga membuat kisah panjang dan penuh liku Evelyn begitu mudah serta menghanyutkan untuk diikuti. Pembaca yang mencari karakter utama wanita karismatik serta kompleks sepertinya akan menikmati apa yang ditawarkan The Seven Husbands of Evelyn Hugo.
Curahan hatiku tentang novel yang membuat ketagihan ini dapat dibaca di sini.


8. The Guernsey Literary & Potato Peel Pie Society – Mary Ann Shaffer & Annie Barrows




Lewat novel ini, aku menemukan rasa cinta baru terhadap karya-karya yang ditulis dengan format epistolary. The Guernsey Literary sendiri masuk ke dalam daftar TOP 11 ini karena aku dapat merasakan “cinta” yang terselip dalam tiap kalimat yang ada dalam novelnya. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa sang penulis  juga merupakan sesama pembaca seperti kita. Aku juga mengapresiasi rasa percaya & cinta yang ditunjukkan penulis terhadap karya fiksi dan seni secara umum. Sebuah novel yang bisa dinikmati setiap pecinta buku & story-telling di luar sana.
Ulasanku tentang The Guernsey Literary dapat ditemukan di sini.


7. Long Way Down – Jason Reynolds



Ingin membaca poetry tapi ragu harus mulai darimana? Long Way Down dapat menjadi salah satu pilihan untuk memulai. Terbilang singkat & dapat diselesaikan dalam sekali duduk, karya Jason Reynolds ini masih terngiang-giang di kepalaku sampai sekarang. Aku tidak pernah tahu buku sesingkat ini bisa meninggalkan pengaruh sebesar itu. Kalau tidak punya banyak waktu untuk membaca namun tetap ingin menikmati sesuatu yang berkesan, buku ini ada untukmu.
Aku juga sudah menuliskan kesanku pasca membaca Long Way Down dalam kiriman ini.

6. Less – Andrew Sean Greer


Less menarik hatiku karena sampul bukunya. Ketika mulai membaca, aku cukup terkejut karena kisah yang benar-benar ditawarkan novel ini ternyata begitu berbeda dari kisah yang sudah terlanjur aku perkirakan sendiri dalam pikiran. Itu bukan hal buruk tentu saja. To be fair, aku memilih novel ini memang karena sampul cantiknya & tidak benar-benar serius menyelidiki buku macam apa yang akan aku lahap nantinya. Aku tidak menyangka “cerita romantis” bisa dikemas menjadi se-nyastra ini. Sedikit-banyaknya, aku bisa mengerti kenapa Less akhirnya diganjar dengan perhargaan Pulitzer untuk kategori fiksi pada tahun 2018. This novel defies my expectation in a really good way & I’m glad that I decided to read it.

5. Love From A to Z – S.K. Ali


Dengan semangat untuk keep-it-halal™️ di bulan Ramadhan, aku iseng membaca novel young adult (YA) karya penulis muslim ini. And boy, it’s everything I hope for. Membaca Love From A to Z menyadarkanku tentang bagaimana besarnya pengaruh “representasi” sebuah identitas dalam media bagi para penikmatnya. Ini akan terdengar konyol (dan miris), tapi di satu titik aku memang agak terharu ketika menemukan protagonis cerita yang “mewakili” salah satu identitasku sebagai manusia di muka bumi ini. It’s nice knowing a fictional character that I can relate to in this particular way. So, yeay for representation & yeay for romance story that keep-it-realhalal™️.

4. Good Omens TV CompanionMatt Whyman



Sebuah pilihan TOP 11 yang begitu bias memang, mengingat pentingnya serial TV Good Omens dalam menjaga kewarasanku di tahun 2019. Cinta pertamaku adalah serial TV Good Omens & bukan novel sumbernya yang sudah tulis oleh Neil Gaiman & Terry Pratchett bertahun-tahun lalu. Ke-6 episode dalam serial TV ini menghuni tempat spesial dalam hatiku yang bahkan kedudukannya tidak bisa digantikan oleh novel sumbernya. Good Omens TV Companion membuatku lebih mengenal hal yang aku cintai ini. Kalau Good Omens merupakan sesuatu yang berarti bagimu/kamu ingin mencari tahu lebih dalam tentang behind-the-scene & proses produksi serial TV-nya, mungkin kau akan sangat mengapresiasi TV Companion ini.
Aku juga sudah menulis panjang lebar tentang Good Omens TV Companion dalam kiriman ini

                                           3. Harry Potter & the Half-Blood Prince – J.K. Rowling



Senada dengan The Prisoner of Azkaban, rasa cintaku pada the Half-Blood Prince tumbuh ketika aku menyaksikan versi film adaptasinya. Dari segi narasi sendiri, sebenarnya film bersangkutan memang lebih banyak menuai kecewa alih-alih bahagia. Ada banyak momen penting & berpengaruh yang dilenyapkan begitu saja (I’m still salty about that opening scene). Aku menyukai versi film yang tidak sempurna ini karena visual & aesthetic-nya yang entah bagaimana begitu memorable dalam ingatan. Novel the Half-Blood Prince menawarkan segala pesona yang hilang dari film; humor gelap & “aneh”nya, karakter-karakter ambigu yang membuat terpana/heran/ragu, flashback masa lalu yang disturbing tapi penting. 10/10 highly recommended, I read this in one (long) sitting.
Tulisan lebih lanjutku tentang the Half-Blood Prince dapat dibaca di sini.

2. Convenience Store Woman – Sayaka Murata


Protagonis wanita unik, karismatik, & antimainstream kembali aku temukan dalam novel singkat ini. Cerita pergulatan Keiko Furukura yang ingin bahagia lewat caranya sendiri, tapi harus dihadapkan pada tekanan dari orang sekitar untuk patuh pada konstruksi sosial yang ada terasa begitu relevan dengan pengalamanku di titik ini dalam hidup. Kisah Keiko juga menunjukkan sisi gelap dari komunitas yang terlampau mengagung-agungkan konformitas. Is it really worth it when you ended up losing yourself in the process?

1. Xenoglosofilia – Ivan Lanin


Xenoglosofilia sudah ada di rak wishlist-ku sejak lama. Ketika akhirnya sampai digenggaman tangan, aku begitu senang karena buku yang ditunggu-tunggu ini ternyata tidak mengecewakan. Xenoglosofilia merupakan kumpulan tulisan dari blog Ivan Lanin yang topik pembahasannya tidak jauh-jauh dari perkara tata bahasa Indonesia. Buku ini adalah buku referensi yang asyik untuk dibaca dalam satu kali duduk & dibuka kembali ketika perlu. Membaca Xenoglosofilia membangkitkan kembali rasa cintaku pada Bahasa Indonesia. Aku rasa pembaca yang menggemari bacaan berbau bahasa/linguistik akan menikmati buku ini juga.

What about you?

Apa bacaan terbaikmu di tahun 2019?

Terhibur/terbantu dengan tulisan ini? Dukung Farah melalui Karyakarsa

Farah melacak bacaannya di situs buku alternatif  The Storygraph | @farbooksventure

Ingin tanya-tanya & tetap anonim? Kirim saja pertanyaanmu lewat Curious Cat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *