Mei – Juni 2019: The Struggle is Real

32/60 | My worst reading slump (so far)
When something that used to bring you joy suddenly lost it’s spark…
Sejujurnya draft untuk kiriman ini sudah mulai ditulis sejak penghujung Mei 2019. Dua minggu di awal Mei boleh dikatakan adalah hari-hari produktif karena aku sudah menyelesaikan lima buku kala itu. Di balik produktivitas dalam hal membaca ini, mirisnya aku perlahan mulai kehilangan motivasiku untuk menulis ulasan buku di blog. Ini begitu terlihat dari minimnya tulisanku dalam Far’s Books Space pada bulan Mei 2019. Pada akhirnya, aku memang berhasil membagikan satu kiriman di akhir Mei tentang novel memorable karya Jason Reynolds, Long Way Down.

Akan tetapi, aku sangat ingat betapa sulitnya aku harus menyemangati diri untuk menyelesaikan satu kiriman itu saja (and honestly, <Long Way Down> deserves better than that. This particular novel-in-verse is an awesome and truly important read, I can’t believe I just read it now. I hope you consider reading <Long Way Down> if you haven’t already. It such a shame that I’ve got such a shitty mood while writing about it).

Aku mendadak menyadari bagaimana asingnya perasaan ini karena biasanya hanya rasa lega dan senanglah yang mampir setelah membagikan sesuatu di Far’s Books Space. Siapa sangka ternyata kejadian ini adalah red flag yang menandai periode dalam hidup  ketika hal-hal yang biasanya mendatangkan kesenangan untuk-ku justru membuatku tidak nyaman dan merasa hampa.


Aku mencoba membaca beberapa buku tapi tidak sanggup membawa diri untuk menyelesaikannya. Aku mencoba menyaksikan film-film sebelum akhirnya meninggalkannya di tengah jalan begitu saja.

Aku menghapus & mengeliminasi banyak hal; video, foto, buku, baju, aplikasi di ponsel, following di media sosial bahkan menghapus akun media sosial itu sendiri. Seolah-olah aku sedang melalui semacam ritual absurd pembersihan diri (Still not feeling any better though).

Aku berulang-kali bergulat dengan mood untuk pergi sejauh-jauhnya dari internet — hanya untuk kembali lagi ke internet beberapa jam kemudian dan dihantui semacam rasa bersalah yang lebih besar.

Aku mencoba menulis sesuatu dari ide-ide sudah bersemayam di kepala hanya untuk meninggalkannya di akhir karena terlanjur lelah untuk menyelesaikannya lagi. Aku lelah sepanjang waktu meskipun tidak melakukan apa-apa. I feel like being alone and it’s worrying honestly…
Kalau dipikir-pikir lagi, periode ini memang akhirnya membuatku segera mengevalusi kondisi diri sendiri. Maksudku, kekacauan macam apa yang sebenarnya terjadi dalam kepala sampai aku merasa sehampa ini? It literally hurts to write a thing. I’m feeling so bored out of mind but I don’t know what to do. It’s the worse feeling ever. Pada awalnya aku hanya berniat rehat sejenak dari bookstagram di bulan Mei dalam rangka menyambut Ramadhan. Ternyata rehat ini pun berlanjut sampai Juni ketika aku melalui fase hermit yang sungguh tidak aku pahami kenapa bisa terjadi.  
Beberapa minggu yang lalu, aku iseng saja menyaksikan serial TV 6 episode dari Amazon Prime ini. Diadaptasi dari novel yang sudah berusia tiga dekade karya Neil Gaiman & Terry Prachet, serial Good Omens yang aku selesaikan dalam kurun waktu 6 jam ini perlahan membuatku merasa lebih baik. Aku mendadak ingat kenapa aku sangat menyukai cerita dalam berbagai bentuk, baik dalam wujud; buku, film/acara TV, bahkan fanfiction sekalipun. Aku akhirnya ingat kenapa hal-hal ini mendatangkan kesenangan bagiku. Duo angel/demon chaotic & tidak kompeten yang berusaha menghentikan armageddon ini membuat keadaan terasa lebih baik untukku sejak saat itu. Ah the restorative power of fiction and TV series made with love…

 (Bless this show for slowly make me feel like myself again)

Aku pun pada akhirnya mampu menulis tulisan ini.
Daftar & Perkembangan Bacaan Farah
Meskipun tidak membaca apa-apa di bulan Juni, aku lumayan puas dengan 5 buku yang mampu aku baca di awal bulan Mei.

[*] 2 buku berhasil menyabet Rating-5;

(Fun fact: Kedua buku ini ditulis oleh penulis yang sama *new fav author alert*)
1. Saints & MisfitsS.K. Ali
Dalam rangka menghayati semangat Ramadhan, aku akhirnya mulai membaca buku fiksi karya penulis Muslim. Di sepanjang novel aku seakan tidak bosan berguman sendu dalam hati; “Is this what representation feels like?” To be fair, meskipun menganut agama yang sama–perbedaan latar belakang budaya&sosio-demografi antara penulis dan aku sebagai pembaca masih membuat beberapa aspek & pengalaman dalam cerita ini terasa asing. It leaves something to be desired honestly. Tetap saja, senang rasanya membaca sepak terjang protagonis yang (sedikit-banyaknya) relatable dengan struggle yang familiar denganku.
2. Love From A to Z – S.K. Ali    
Dari dua buku S.K. Ali yang sudah aku baca, Love From A to Z adalah favoritku. Menyukai buku ini secara diam-diam membuktikan bagaimana hopeless romantic-nya aku dalam hati. Yep, it’s a halal love story full of common romantic trope like meet-cute, chance meeting, and protagonist as two person that are match-made-in heaven. Hal-hal di atas memang klise. Tapi tetap menarik ketika diceritakan dari sudut pandang ini.

[*] 2 buku mendapat Rating-4;

1. The Bride TestHelen Hoang
Sebagai buku kedua dalam seri The Kiss Quotient, The Bride Test melanjutkan jejak buku pendahulunya dalam menggabungkan kisah romantis steamy&menggemaskan dengan narasi cerita nan menggalir. On a second thought, ada beberapa hal yang memang memicu tanyaku terkait dengan hubungan Esme&Khai. Beberapa poin krusial dalam cerita mereka juga terlampau dramatis untuk seleraku. Komentar negatif beberapa orang juga membuatku ingin membaca ulang novel ini lamat-lamat. Aku begitu menikmati novel ini ketika membacanya untuk pertama kali. Tapi, aku bisa saja melewatkan beberapa hal penting karena membaca novelnya dengan begitu bersemangat.
Aku sempat khawatir sebelum membaca Goblet of Fire. Setelah puas membaca puncak petualangan The Golden Trio dalam Prisoner of Azkaban yang menyenangkan, tone cerita dalam Goblet of Fire langsung berubah lebih suram dan serius. Kematian muncul lebih sering dan lebih grafik di sepanjang cerita. Ancaman yang dibawa Voldemort dan pengikutnya juga terasa lebih nyata. Akan tetapi, aku sempat terkejut karena aku tidak terlalu merasa frustasi selama  membaca novel ini. Siapa sangka ternyata kisah dalam Goblet of Fire dibangun untuk membuatku merasakan frustasi yang teramat sangat di sepanjang buku Order of the Phoenix?

[*] 1 buku bertengger di Rating-3;
Senyum Karyamin – Ahmad Tohari
Buku yang tidak genap 100 halaman ini merupakan kumpulan 13 cerpen karya Ahmad Tohari yang pernah dipublikasikan di berbagai media dalam kurun waktu 1976-1986. Semua cerpen ini setia dengan ciri khas seorang Ahmad Tohari, membahas persoalan yang membumi, lokal, dan fokus pada masyarakat menengah ke bawah. Sebagai pembaca yang terlahir di penghujung abad 20 dan membaca kumcer ini di abad 21, potret kehidupan pada beberapa cerpen dalam Senyum Karyamin kadang terasa asing dan berasal dari masa lampau yang begitu jauh. Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa aku merasa lebih relatable dan terkesan dengan buku kumcer Beliau yang lain yaitu Mata Yang Enak Dipandang. Still, it’s a really important and insightful read. 

Update kemajuan tantangan baca;
Goodreads: 32/60
PopSugar Reading Challenge: 21 prompts sudah dicoret.
Gerakan One Week One Book di Instagram; karena satu dan lain hal, aku akhirnya memutuskan untuk undur diri dari gerakan ini. Mempertimbangkan kondisi sekarang, sepertinya tidak memungkinkan untuk membaca satu buku setiap satu minggu. Kalau pun memungkinkan, break yang aku jalani dari dunia per-instagram-an membuatku tidak bisa berbagi perkembangan membacaku di platform itu. So, yeah I’m out for now.

Hal Baru Dalam Dunia Baca-Membaca Farah; [Bookmate & Book Buying Ban (BBB)]
Masih ingatkah dengan curhatanku 4 bulan lalu ketika baru menemukan Scribd? Pada bulan Juni 2019, aku tanpa sengaja menemukan aplikasi lain yang senada dengan aplikasi yang satu ini. Bookmate adalah aplikasi e-book berlangganan yang rutin aku gunakan sampai kiriman ini ditulis pada awal Juli 2019. Meskipun tetap prefer buku fisik daripada e-book karena membaca via ponsel selalu membuat mataku lelah lebih cepat, tidak bisa dipungkiri bahwa aplikasi berlangganan semacam ini dengan koleksi bukunya yang tidak terbatas begitu membantuku, apalagi ketika mengingat dana & sumber daya pribadi yang terbatas untuk selalu membeli buku.

Beberapa kendala yang menghadangku ketika menggunakan Scribd adalah biaya berlangganan perbulannya yang terbilang mahal untuk kondisi finansialku saat ini (aku bisa mencoba Scribd untuk pertama kalinya karena patungan dengan beberapa teman pembaca) dan opsi pembayarannya yang begitu terbatas karena membutuhkan kartu kredit (I don’t have one). Kehadiran Bookmate begitu membantu karena biaya berlangganan di aplikasi ini lebih terjangkau di kantong (sekitar 55k setiap bulan termasuk PPN dan biaya jasa untuk akun premium) dan opsi pembayarannya memungkinkanku berpartisipasi tanpa perlu memiliki kartu kredit (hidup Google Billing!). Sejauh ini, berlangganan di Bookmate terasa worth it karena koleksi buku dalam perpustakaannya yang memang tidak jauh-jauh dari minat dan seleraku. Sudah banyak buku wishlish yang bisa aku temukan di perpustakaan Bookmate. Aku merasa lebih ringan karena rak wishlish-ku terlihat lebih terkontrol akhir-akhir ini. Kunjungi situs resmi Bookmate ini kalau kamu ingin tahu lebih jauh *this is not a sponsored posts I assure you ;)*

Kehadiran Bookmate juga memberiku jalan untuk mewujudkan niat dalam hal; mengurangi frekuensi belanja buku fisik. Setelah memonitor masuk-keluarnya uang dengan teliti selama beberapa bulan terakhir, aku akhirnya melihat sendiri (dalam wujud angka yang sejujurnya agak mengejutkan) betapa signifikannya jumlah uangku yang mengalir untuk buku fisik (bahkan melebihi anggaran untuk makanan yang notabene-nya merupakan kebutuhan primer). 

For the record, aku tidak menyesal menggunakan uang untuk buku.
Hanya saja;
(1) Setelah mengingat jumlah buku belum dibaca yang terus menempuk di berbagai pelosok ruang,
(2) Setelah berjanji pada diri sendiri agar hanya membeli buku yang nantinya akan benar-benar penting dan/atau begitu aku sukai,
(3) Setelah mempertimbangkan dan mengingat pohon-pohon yang diperlukan untuk memproduksi buku fiksi,
-> Sepertinya BBB (Book Buying Ban) adalah langkah logis yang harus aku ambil dan berusaha untuk aku wujudkan di sisa tahun 2019 ini.


Bagaimana dengan perkembangan membacamu sejauh ini?

0 thoughts on “Mei – Juni 2019: The Struggle is Real

  1. Semangat, yaa! Saya juga pernah merasakan hal yang sama, males baca buku, malas nulis resensi. Tapi ujung-ujungnya balik baca lagi, sih. Lupa waktu itu ngapain, hehehe.

  2. Hehehe iya, terima kasih Ratih 😀 Membaca memang pasti akan ada masa naik dan turun ya… Meskipun sudah sadar dengan kenyataan ini, terkadang tetap sedih juga ketika reading slump melanda >.<

  3. Lagi mengalami hal ini sekarang. Baca buku malah di tinggal tinggal, nonton film yg ringan pun malas nulis buat resensi, huft. Baca tulisan ini semoga bisa jdi penyemangat aku buat nulis. Nice posting mba! :')

  4. It's okay to feel like that at times Nisa! Kalau memang merasa tidak bersemangat, tidak perlu memaksakan diri. Don't beat yourself to hard over it. Ada baiknya mencoba alternatif kegiatan lain yang bisa membuat senang dan memicu semangat baru ^^ Cepat atau lambat, masa tidak mengenakkan ini akan berlalu juga. Terima kasih karena sudah mampir Nisa 😀 I hope you only have great days ahead.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *