Tentang And Then There Were None Karya Agatha Christie

“I don’t know. I don’t know at all. And that’s what’s frightening the life out of me. To have no idea….


Informasi Buku

Judul: And Then There Were None – Lalu Semuanya Lenyap
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Mareta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9789792235241
Tahun publikasi: 2017 (November/pertama kali dipublikasikan tahun 1939)
Cetakan: Kedua belas
Jumlah halaman: 288 halaman
Buku: milik pribadi 
Temukan buku ini di Goodreads


Blurb

Sepuluh orang diundang ke sebuah rumah mewah dan modern di Pulau Negro, di seberang pantai Devon. Walaupun masing-masing menyimpan rahasia, mereka tiba di pulau itu dengan penuh harapan, pada suatu sore musim panas yang indah.
Tetapi tiba-tiba terjadi serentetan kejadian misterius. Pulau itu berubah menjadi pulau maut yang mengerikan. Panik mencekam orang-orang itu ketika mereka meninggal satu demi satu… satu demi satu…
Novel Agatha Christie yang paling mencekam dan menegangkan!Cerita detektif tanpa detektif!


Menurut Farah Tentang Buku Ini

Dirilisnya film Murder in The Orient Express di Indonesia memunculkan semangatku kembali dalam membaca novel-novel crime karya Agatha Christie. Jauh sebelum mengenal Sherlock Holmes, aku memang sudah lebih dulu mengenal Hercule Poirot dan “sel-sel kelabu”-nya. Novel Agatha Christie pertamaku sendiri adalah novel bertajuk Body in The Library (Mayat Dalam Perpustakaan), yang merupakan novel dari karakter detektif lain di buku Agatha Christie yaitu, Miss Marple.
Aku sebenarnya sudah tertarik dengan novel And Then There Were None cukup lama. Meskipun bisa dibilang memiliki setumpuk buku Agatha Christie (yang mirisnya sebagian besar belum aku baca), sayangnya buku ini tidak termasuk dalam tumpukan itu. Beberapa minggu yang lalu, aku menemukan buku ini yang dicetak ulang dalam cover baru di Gramedia. Tanpa pikir panjang, aku langsung membelinya. Ternyata setelah menyelesaikan novel ini, aku tanpa ragu bisa mengatakan bahwa And Then There Were None adalah salah satu bacaan favoritku untuk tahun ini.

Menuturkan kisah tentang 10 orang yang diundang ke sebuah pulau misterius oleh seseorang yang tidak dikenal dan kemudian satu-persatu terbunuh di sana, tidak berlebihan memang kalau novel ini dianggap sebagai magnum opus (masterpiece) dari seorang Agatha Christie. Aku masih bertanya-tanya… Hal macam apa sebenarnya yang menginspirasi Agatha Christie untuk menulis novel seperti yang satu ini? Mengangkat tema tentang “pembalasan keadilan” bagi orang-orang yang bersembunyi di balik kejahatan yang tak tersentuh hukun, konon And Then There Were None juga merupakan novel tersulit yang pernah Agatha Christie tulis dalam sejarah kepenulisannya. Hal ini tentu saja tidak mengherankan. Aku yakin pasti diperlukan riset serius dan dalam untuk menyusun novel 288 halaman ini.

Pada bagian awal novel kita akan diperkenalkan pada 10 karakter malang yang akan meregang nyawa di Pulau Indian dalam cerita novel ini. And Then There Were None dinarasikan dari sudut pandang orang ketiga dan terbagi dalam 16 bab yang kemudian ditutup dengan sebuah epilog. Kira-kira di 150 halaman awal novel aku masih bisa membaca dengan tenang. Akan tetapi, menjelang 100 halaman terakhir aku makin tergesa-gesa untuk menyelesaikan novelnya. Tidak hanya berhasil dalam bermain dengan psikologi (dan perasaan) karakter-karakter dalam novel, Agatha Christie juga berhasil mempermainkan perasaan pembaca. Aku benar-benar gregetan sendiri ketika membaca bagian akhir novel ini. Setelah selesai membaca epilog di bagian akhirlah baru semuanya menjadi lebih jelas.

Aku benar-benar salut dengan ide yang diusung Agatha Christie dalam novel ini. It’s simply brilliant.

Walaupun kau bukan penggemar berat Agatha Christie atau mungkin saja belum pernah sama sekali membaca novel-novel Beliau, aku pikir And Then There Were None adalah bacaan wajib untuk seseorang yang menggemari kisah fiksi dengan genre crime/mystery/thriller.
Rating
5/5

Terhibur/terbantu dengan tulisan ini? Dukung Farah melalui Karyakarsa

Farah melacak bacaannya di situs buku alternatif  The Storygraph | @farbooksventure

Ingin tanya-tanya & tetap anonim? Kirim saja pertanyaanmu lewat Curious Cat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *