[21/02/19] Tentang Dua Tengkorak Kepala: Cerpen Pilihan KOMPAS 2000

https://www.instagram.com/p/BuIioSOhAns/

“Tetapi kakekmu korban kekejaman tentara penjajah,” kata pamanku.

Lalu teman saya Ali, bagaimana? Dia malah bukan korban kekejaman tentara penjajah, melainkan korban kekejaman tentara bangsa sendiri,” ujarku.”


Informasi Buku 
Judul: Dua Tengkorak Kepala: Cerpen Pilihan KOMPAS 2000 

Penulis: Motinggo Busye, Herlino Soleman, Hamsad Rangkuti, Umar Kayam, Prasetyohadi, Harris Effendi
Thahar,
Ratna Indraswari Ibrahim, Yanusa Nugroho, Abel Tasman, Jujur Prananto, Seno Gumira Ajidarma,  Arie MP Tamba, Bre Redana, Nenden Lilis A., A.A. Navis, Gus tf Sakai. 
Penyunting; Kenedi Nurhan
Penerbit: Kompas 

ISBN: 9786024123277
Tahun publikasi: 2017 (pertama kali dipublikasikan pada 2000)
Jumlah halaman: 200 halaman
Buku: milik pribadi 
Temukan buku ini di Goodreads

Blurb

Berisi 16 cerpen pilihan yang terbit di harian Kompas pada tahun 2000.

Dua Tengkorak Kepala karya Motinggo Busye, cerpen terbaik
Anjing! karya Herlino Soleman
Santan Durian karya Hamsad Rangkuti
Lebaran ini, Saya Harus Pulang karya Umar Kayam
Usaha Beras Jrangking karya Prasetyo Hadi
Darmon karya Harris Effendi Thahar
Salma yang Terkasih karya Ratna Indraswari Ibrahim
Mawar, Mawar karya Yanusa Nugroho
Metropolitan Sakai karya Abel Tasman
Seusai Revolusi karya Jujur Prananto
Telepon Dari Aceh karya Seno Gumira Aji Darma
Bulan Angka 11 karya Arie MP Tamba
Wanita yang Ditelan Malam karya Bre Redana
Ruang Belakan karya Nenden Lilis A
Dua Orang Sahabat karya AA Navis
Laba-laba karya Gus tf Sakai

Menurut Farah Tentang Buku Ini

Setelah selama beberapa bulan terakhir berkutat terus dengan bacaan Bahasa Inggris, lega rasanya ketika menyelesaikan buku dalam bahasa ibu ini. Satu hal kecil yang baru aku sadari sekarang adalah semahir dan seluwesnya apapun aku dalam bahasa asing, tetap saja hanya Bahasa Indonesia-lah yang bisa memberiku perasaan bebas dan tenang seperti ini. Aku sepertinya harus lebih banyak membaca sastra lokal tahun ini dan menahan diri agar tidak terbuai pesona menggiurkan sastra luar. Niatan ini demi kewarasan dan kemaslahatan diri sendiri tentu saja.
Dua Tengkorak Kepala adalah buku kumpulan cerpen KOMPAS kelima yang sudah aku baca sejauh ini. Senada dengan berbagai cerpen dalam buku-buku kumcer KOMPAS lain, cerpen-cerpen dalam Dua Tengkorak Kepala tentu temanya tidak jauh-jauh dari kritik sosial yang “menyinggung” kondisi sosial politik Indonesia yang sedang bergejolak di sekitaran tahun itu. Ketika ke-16 cerpen ini terpilih untuk dimuat dalam Koran Kompas, tentu tidak mengherankan kalau cerpen yang terpilih memiliki muatan kritik sosial kental. Akan tetapi, aku merasa beberapa cerpen lebih asyik untuk dibaca daripada beberapa cerpen lain (Meskipun pada akhirnya mereka sama-sama memiliki agenda terselubung untuk mengkritik sebuah kondisi atau fenomena sosial yang tidak patut).

Ketika membaca artikel pembuka dan penutup yang ditulis oleh Goenawan Mohammad dan Budiarto Danujaya dalam Dua Tengkorak Kepala, aku sepertinya mulai paham tentang cerpen seperti apa yang aku rasa lebih asyik ketika dibaca. Beberapa cerpen dalam Dua Tengkorak Kepala terkadang terlalu terasa “menceramahi” pembacanya. Kalau meminjam kata-kata Budiarto Danujaya dalam blurb buku ini;
“…Pada beberapa cerpen bahkan tampak keterikatan penuturan cerita pada “agenda” plot secara agak berlebihan…”
Agenda berlebihan yang mengutamakan plot (alur cerita) ini membuat cerpen terasa panjang dan bahkan membosankan. Alih-alih seperti sebuah cerpen, beberapa bagian lebih terasa seperti ceramah atau laporan panjang lebar tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Satu karakter digambarkan memiliki se-tercelanya sikap, saking tercelanya bahkan karakter ini tidak terasa seperti manusia pada umumnya lagi. Cerpen pun menjauh dari realitas karena pada kenyataannya, hampir tidak ada seseorang yang benar-benar “murni” jahat. Ukuran jahat dan tidaknya seseorang adalah ranah abu-abu menurutku.

Tapi, buat apa cerpen dekat dengan realita? Itu kan hanya fiksi bagaimanapun juga?
Kalau seseorang berniat menyampaikan kritik sosial dengan media cerpen, aku pikir akan lebih efektif apabila dia fokus pada pengembangan karakter alih-alih menyelipkan agendanya dengan fokus hanya pada plot. Aku rasa pilihan untuk fokus pada plot pada akhirnya malah membuat pesan baik yang berusaha untuk disampaikan terasa seperti ceramah yang masuk di telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Aku lebih menyukai cerpen yang tidak menceramahi pembaca tentang baik dan buruk. Aku menyukai cerpen abu-abu yang menyerahkan  kebebasan untuk memutuskan sikap pada pembacanya. 

Ketika pembaca mulai mempertanyakan hal yang dia baca dan memikirkan lamat-lamat kisah yang baru saja disampaikan dan pesan terselubung dibaliknya, aku pikir itulah cara paling efektif untuk menyampaikan kritik sosial dalam cerpen secara halus tanpa membuat pembaca merasa diceramahi. 
Beberapa cerpen favoritku dalam Dua Tengkorak Kepala yang aku rasa cukup subtil dalam menyampaikan “agenda”-nya adalah;
(1) Dua Tengkorak Kepala karya Motinggo Busye.
(2) Lebaran ini, Saya Harus Pulang karya Umar Kayam.
(3) Dua Orang Sahabat karya A.A. Navis.
Meskipun bukanlah seorang penggemar dari cerpen-cerpen yang “penuh ceramah” aku tetap bersyukur memutuskan membaca buku ini karena cerpen-cerpen di dalamnya membantuku memahami hal apa saja yang aku sukai dan tidak terlalu aku sukai dari sebuah cerpen. Artikel Budiarto Danujaya bertajuk Realitas ‘Koran’ pada Sastra Koran di bagian penutup kumcer Dua Tengkorak Kepala juga merupakan bacaan insightful dan menarik untuk penggemar cerpen di luar sana.

Untuk penggemar cerpen Indonesia di luar sana, aku tetap merekomendasikanmu untuk membaca buku ini. Ulasanku terkait buku kumcer KOMPAS yang lain dapat di temukan di sini.

Rating
3/5
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *