[31/01/18] Tentang Trilogi The Hunger Games Karya Suzanne Collins

And if we burn… You burn with us too

Informasi Buku 
Judul: The Hunger Games (The Hunger Games #1) 
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama   
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9789792250 
Tahun publikasi: 2009
Cetakan: –
Jumlah halaman: 408 halaman
Buku: milik pribadi   
Temukan buku ini di Goodreads

Judul: Catching Fire (The Hunger Games #2)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9789792259810
Tahun publikasi: 2010
Cetakan: –
Jumlah halaman: 424 halaman
Buku: milik pribadi 
Temukan buku ini di Goodreads

Judul: Mockingjay (The Hunger Games #3)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9789792278439
Tahun publikasi: 2010
Cetakan: –
Jumlah halaman: 432 halaman
Buku: milik pribadi 

Temukan buku ini di Goodreads


Blurb

[#1] Dua puluh empat peserta. Hanya satu pemenang yang selamat.
Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik. Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.
Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah : membunuh atau dibunuh.
Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.

[#2] Katniss Everdeen
berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games bersama Peeta Mellark.
Tapi kemenangan itu menyulut kemarahan Capitol.
Kemenangan Katniss
ternyata membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk
menentang kekuasaan Presiden Snow yang kejam.
Presiden Snow
mengancam Katniss untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik dalam Tur
Kemenangan-nya. Satu-satunya cara untuk meredakan kegelisahan penduduk
adalah membuktikan bahwa dia dan Peeta saling mencintai tanpa ada
keraguan sedikit pun. Jika gagal, keluarga dan semua orang yang
disayangi Katniss menjadi taruhannya….

[#3] Katniss Everdeen
selamat dari Hunger Games, dua kali.
Tapi dia belum sepenuhnya aman dari
ancaman Capitol meskipun kini ia dalam lindungan Distrik 13.
Pemberontakan
makin merajalela di distrik-distrik untuk menjatuhkan Capitol. Kini tak
ada seorang pun orang-orang yang dicintai Katniss aman karena Presiden
Snow ingin menumpas revolusi dengan menghancurkan Mockingjay…
bagaimanapun caranya.

Menurut Farah Tentang Buku Ini 

Aku memutuskan membaca ulang trilogi The Hunger Games setelah reading slump menderaku di awal tahun 2017. Tidak terasa Januari pun sudah akan berakhir. The Hunger Games bisa dibilang adalah novel young adult (YA) yang secara tidak melangsung membentuk dunia membacaku (lagi) ketika aku berusia kurang lebih 13 tahun. Pasca novel trilogi ini aku bisa dibilang tidak terlalu menaruh minat dalam pada novel-novel YA dengan tema dystopia lain (kecuali The Maze Runner by the way). Kalau beberapa orang berkata bahwa dia tumbuh dengan membaca novel Harry Potter, aku tumbuh dengan membaca rangkaian trilogi The Hunger Games ini.
Membaca ulang trilogi ini memang memunculkan perasaan baru bagiku. Meskipun lumayan menikmati novel ini saat membacanya untuk pertama kali, sensasi membaca novel ini untuk kedua kalinya juga tidak kalah menyenangkan. Meskipun muncul beberapa kritikan terkait dengan kemiripan antara The Hunger Games dan Battle Royale (yang novelnya sejujurnya belum pernah aku baca sama sekali), aku tetap mengapresiasi usaha Suzanne Collins yang berusaha membangun dunia yang tidak sempurna dalam The Hunger Games dengan segala alegori di dalamnya.

Mungkin hal yang sangat diingat orang dari novel ini adalah karakter protagonis tangguhnya yaitu Katniss Everdeen. Karakter heroine tangguh seperti Katniss memang adalah hal yang lumayan jarang muncul ketika buku ini baru terbit hampir 1 dekade lalu. Tidak hanya karena karakter unik Katniss, aku juga ingat terkagum-kagum pada latar cerita novel ini dan topik cinta segitiga yang dieksplorasi dalam rentang wajar dalam bukunya. Meskipun di satu titik aku mengakui bahwa aku sempat cukup kesal pada Katniss karena tidak pernah tegas dalam memilih antara Peeta dan Gale, aku akhirnya bisa menerima penyelesaian kisah cinta segitiga ini. Aku pikir bagian epilog dalam buku ketiga seri ini, Mockingjay, adalah bagian favoritku dari keseluruhan novel. Bagian itu ditulis dengan sangat indah.


Ketidakberdayaan Katniss dalam skema penggulingan kekuasaan dari Capitol dan peran gadis ini yang benar-benar hanya sebagai pion dalam permainan antara Capitol dan Distrik 13 baru benar-benar aku sadari setelah membaca trilogi ini kembali. Lumayan ironis dan menyedihkan sebenarnya. Katniss pada akhirnya tidak lebih dari seseorang gadis yang hanya menginginkan kehidupan tenang untuknya dan orang-orang yang dia sayangi. Her story is really bittersweet like that.
Tidak berlebihan memang kalau aku berkata bahwa aku kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan trilogi ini. Terlepas dari segala klise yang mungkin ada dan kontroversi yang bermunculan terkait novelnya, trilogi The Hunger Games tetap menjadi salah satu bacaan memorable bagiku sepanjang masa.
Kalau kau menyukai bacaan young adult yang mengangkat tema dunia dystopia aku pikir rangkaian trilogi The Hunger Games adalah salah satu bacaan wajib untukmu.
Rating
4/5 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *