[05/02/17] Tentang The Girl On The Train Karya Paula Hawkins

Novel ini enjoyable dan membuat ngeri disaat yang
bersamaan.
 Meskipun The Girl on the Train adalah novel thriller pertama yang
pernah aku baca, aku sungguh-sungguh merekomendasikan novel ini untuk para
pembaca penikmat novel ber-genre thriller di luar sana.

Informasi Buku

Judul: The Girl on the Train
Penulis: Paula Hawkins
Penerbit: Noura Books
ISBN: 9786020989976
Cetakan: kesebelas
Tahun publikasi: 2016 (pertama kali dipublikasikan pada tahun 2015)
Jumlah halaman: 431 halaman
Buku: milik pribadi
Temukan juga buku ini di Goodreads


Blurb



Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Setiap hari dia terguncang-guncang di dalamnya, melintasi sederetan rumah-rumah di pinggiran kota yang nyaman, kemudian berhenti di perlintasan yang memungkinkannya melihat sepasangan suami istri menikmati sarapan mereka di teras setiap harinya. Dia bahkan mulai merasa seolah-olah mengenal mereka secara pribadi. “Jess dan Jason,” begitu dia menyebut mereka. Kehidupan mereka-seperti yang dilihatnya-begitu sempurna. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri yang baru saja hilang.Namun kemudian, dia menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini segalanya berubah. Tak mampu merahasiakannya, Rachel melaporkan yang dia lihat kepada polisi dan menjadi terlibat sepenuhnya dengan kejadian-kejadian selanjutnya, juga dengan semua orang yang terkait. Apakah dia telah melakukan kejahatan alih-alih kebaikan?



Menurut Farah Tentang Buku Ini
Sama seperti ketika menyaksikan film thriller yang tidak akan sama serunya ketika ditonton lebih dari satu kali, dalam proses membaca novel thriller sepertinya juga berlaku prinsip demikian. Kita mungkin bisa saja membaca novel jenis ini lebih dari satu kali akan tetapi, efek kejut dan hal tidak terduga yang ada dalam cerita thriller tidak akan terlalu berarti lagi. Oleh karena itu, awalnya aku sempat ragu untuk memulai novel ini (kesempatan untuk menyelesaikan novel dalam sekali duduk sangat langka dalam situasi yang mulai sibuk sekarang). Aku mulai membaca The Girl on the Train pada tanggal 30 Januari 2017. Hanya tinggal sehari lagi di bulan Januari sebelum Februari menyapa. Berkaca dari pengalamanku yang tidak bisa menyelesaikan tantangan goodreads tahun lalu, diam-diam tahun ini aku menargetkan untuk setidaknya menyelesaikan empat novel setiap bulannya. Setelah memperkirakan bahwa sepertinya aku tidak dapat menyelesaikan Max Havelaar secepat itu, aku mulai membaca The Girl on the Train dan akhirnya berhasil menyelesaikan novel ini dalam kurun waktu satu hari. Genap sudah akhirnya aku menyelesaikan empat buku di bulan Januari. Membaca The Girl on the Train adalah keputusan yang tepat.


The Girl on the Train sendiri adalah novel bergenre thriller dengan alur cerita cepat. Ini merupakan novel thriller pertama yang pernah aku baca dan sejujurnya ini adalah pengalaman pertama yang mengasyikan. Cerita dalam novel ini dituturkan dari tiga sudut pandang yang berbeda. Meskipun begitu, The Girl on the Train tetap enjoyable dan tidak akan membuat pusing ketika dibaca. Teknik penuturan cerita dari tiga sudut pandang ini justru malah lebih memperkaya pengalaman kita ketika mengikuti cerita yang dituturkannya. Sebagian besar cerita sendiri akan kita lihat dari sudut pandang Rachel. Rachel adalah salah satu tokoh utama dalam novel ini. Dia merupakan seorang wanita putus asa dan alcoholic yang sehari-harinya rutin berpergian dengan kereta. Satu hal yang dilihat Rachel tanpa sengaja dari atas kereta waktu itu memang sangat mempengaruhi keseluruhan cerita dalam novel ini. Namun, sesungguhnya cerita dalam The Girl on the Train tidaklah sesederhana itu.


Aku sebenarnya cukup bingung ketika mempertimbangkan hal yang akan aku ulas di sini karena tidak ingin membocorkan ceritanya. Sinopsis novel ini memang telah merangkum secara garis besar kisah dalam The Girl on the Train tanpa memberikan bocoran cerita yang tidak perlu. Selanjutnya, diserahkan kepada pembaca untuk merasakan sendiri “sensasi” dalam membaca novel ini.


Satu hal yang sangat aku sukai dalam novel ini adalah karakterisasi tokoh-tokohnya. Kita pasti sudah sama-sama menyadari bahwa biasanya dalam sebuah cerita (baik dalam novel atau film atau drama) pasti akan ada saja satu tokoh yang terlalu “baik” atau malah terkadang terlampau jahat. Dalam The Girl on the Train, Paula Hawkins tidak membuat tokoh dengan prinsip seperti ini.
Semua tokoh dalam The Girl on the Train memiliki karakter realistis dan sangat manusiawi. Tidak ada tokoh yang terlalu baik. Setiap tokoh memiliki sifat tidak terpujinya masing-masing dan tidak ada tokoh yang “sempurna”. 
Terkadang hal seperti ini tidak terlalu sering ditemui lagi dalam berbagai cerita yang  penuh dengan tokoh sempurna tanpa cela. Membaca cerita dengan tokoh-tokoh yang “manusiawi” setelah sekian lama terasa sangat menyenangkan.


The Girl on the Train adalah novel yang pas sebagai bacaan kilat karena alurnya yang cepat. Novel ini juga akan lebih baik diselesaikan dalam sekali duduk karena ceritanya yang memang mengejutkan dan akan lebih baik dinikmati ketika kita membacanya pada kali pertama.


Rating
      3,8/5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *