[30/08/18] Tentang The Old Man and The Sea Karya Ernest Hemingway

https://www.instagram.com/p/Bm2r3KhnNNs/?taken-by=farbooksventure
“Seorang laki-laki bisa dihancurkan. Akan tetapi, dia tidak bisa dikalahkan”

Informasi Buku
Judul: The Old Man & The Sea 

Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: KPG
ISBN: 9786026208880
Tahun publikasi: Mei 2016 (Pertama kali dipublikasikan tahun 1952) 
Jumlah halaman: 112 halaman
Buku: milik pribadi
Temukan buku ini di Goodreads 



Blurb

Berlatar di Teluk
Meksiko, Lelaki Tua dan Laut merupakan karya mengagumkan Hemingway yang
berkisah tentang seorang nelayan tua, seorang anak lelaki, dan seekor
ikan raksasa. Dalam jalinan cerita yang ketat, Hemingway memperlihatkan
keindahan dan kesedihan yang unik dan tak lekang waktu seorang manusia
berhadapan dengan ombak kehidupan. Buku ini mengantarkan Hemingway
meraih Hadiah Pulitzer pada 1953. Setahun kemudian, pada 1954, Hemingway
meraih hadiah Nobel di bidang kesusastraan atas jasanya melahirkan dan
mengembangkan gaya baru dalam sastra modern.



Menurut Farah Tentang Buku Ini 

The Old Man and Sea bisa dibilang merupakan salah satu
karya paling termashyur dari Ernest Hemingway. Novella ini adalah karya terakhir
yang dipublikasikan oleh Hemingway  dalam
masa hidupnya. Novella yang pertama kali dirilis pada tahun 1952 ini ikut
berkontribusi pada penganugrahan hadiah nobel dalam bidang sastra untuk
Hemingway pada tahun 1954.

 

Cerita dalam The Old Man and Sea sebenarnya cukup sederhana. Dengan latar belakang wilayah Teluk Meksiko, novella ini mengisahkan
tentang perjuangan seorang nelayan tua, Santiago, dalam menangkap ikan Marlin
di lautan lepas Kuba setelah puasa tangkapan selama 84 hari. Hal yang menjadikan
novella ini begitu ternama bisa jadi adalah pesan terselubung dibalik cerita
yang sederhana.

Sosok Santiago, yang sudah tua namun tetap pantang menyerah
merupakan sebuah gambaran tentang bagaimana seseorang dapat bertahan dalam
segala badai yang dilalui dalam kehidupan
. Senada dengan kutipan terkenal dari
novella ini, Santiago memang merupakan sosok seorang laki-laki yang “bisa
dihancurkan tapi tidak bisa dikalahkan”. Tidak peduli apapun hasilnya, sosok
Santiago menginspirasi kita untuk tetap berjuang sampai ke titik darah
penghabisan. Terkadang kemenangan memang tidak melulu berupa peringkat pertama dan emas melimpah. Kemenangan juga bisa berupa fakta bahwa kita tidak pernah menyerah dalam berjuang, sesulit apapun situasinya.

Menurutku buku ini adalah jenis buku yang harus dibaca
disaat “yang tepat” dalam hidup. Meskipun bisa dibilang cukup pendek (hanya 112
halaman), membaca The Old Man and Sea bukanlah
pengalaman menyenangkan untuk aku secara pribadi. Aku sering kali merasa
bosan di beberapa bagian. Di satu titik, buku ini bahkan lebih terasa sebagai
dokumentasi panjang tentang kesulitan yang dialami nelayan tua ketika menangkap
seekor ikan besar sendiri alih-alih sebuah karya sastra besar yang patut
diganjar penghargaan Pulitzer. Bisa jadi saat ini bukan merupakan waktu yang
“tepat” untuk membaca buku ini untukku. Mungkin saja, ketika membaca buku
ini lagi di masa depan aku bisa lebih terhubung dengan kisah Santiago.
Aku tidak selalu merasa bosan tentu saja. Ada 3 bagian yang lumayan memorable menurutku dalam novella ini:

  1. Halaman 18 (Tentang Bulan Yang Mempengaruhi Laut & Perempuan)
    Ada satu paragraf di halaman ini yang menguraikan tentang bagaimana arti laut bagi Santiago. Ketika nelayan lain menganggap laut sebagai el mar (menunjukkan gender laki-laki) atau sesuatu yang harus ditaklukkan. Santiago menganggap laut sebagai la mar
    (menunjukkan gender perempuan), sesuatu yang menyimpan/memberi anugerah.

    “Bulan berpengaruh atas perangainya [laut] seperti halnya atas perempuan, pikir lelaki tua itu.”

    Entah mengapa aku merasa perbandingan ini lumayan lucu. Bulan mempengaruhi pasang surut air laut. Bulan juga mempengaruhi pasang surut emosi perempuan setiap bulannya get it?. Apakah Hemingway memang berusaha memasukkan subtle joke di bagian ini? Menurutku iya.

  2. Halaman 35 (Kisah Ikan Todak Jantang & Betina)
    Santiago bernostalgia ke masa ketika dia melaut dengan Manolin dan menangkap seekor ikan todak betina. Uraian Santiago tentang bagaimana pasangan ikan todak ini, si ikan todak jantan, setia menunggui betinanya yang sudah tertangkap mengharukan menurutku. Memang tidak ada akhir bahagia untuk dua ikan ini. Tapi, kesetiaan si jantan sampai ke titik akhir begitu mengagumkan.
  3. Halaman 97 – Halaman Terakhir (Manolin)
    Seperti yang sudah aku uraikan di atas, aku sempat bosan ketika membaca buku ini. Akan tetapi, ketika akhirnya Santiago kembali dan Manolin muncul lagi dalam cerita aku terenyuh dibuatnya. Seolah lupa kebosanan yang aku rasakan tadi. Rasa sayang anak laki-laki ini pada Santiago sungguh besar. Bagian penutup dimana Santiago terlelap dan Manolin duduk di sisinya adalah penutup terbaik untuk kisah novella ini. 
The Old Man and Sea memang berpotensi membosankan di
beberapa bagian. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri kisah membosankan ini
menyimpan banyak pelajaran berharga tentang hidup. Aku merekomendasikan The Old Man and Sea untuk penggemar
cerita-cerita klasik di luar sana. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi
pilihan bacaan untuk pembaca yang menyukai cerita sederhana tapi menyimpan
banyak makna.
Rating
3,8/5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *