[09/04/19] Tentang Harry Potter and the Chamber of Secrets Karya J.K. Rowling

“It is our choices, Harry, that show what we truly are, far more than our abilities.”

Informasi Buku

Judul: Harry Potter and the Chamber of Secrets
Penulis: J.K. Rowling

Penerbit: Bloomsbury Publishing
ISBN: 9781408898147
Tahun publikasi: 2018 (pertama kali dipublikasikan tahun 1998 dalam Bahasa Inggris)
Jumlah halaman: 384 halaman

Buku: milik pribadi
Bahasa: Inggris
Kategori umur: young adult/ middle grade
Temukan buku ini di Goodreads


Blurb

There is a plot, Harry
Potter. A plot to make the most terrible things happen at Hogwarts
School of Witchcraft and Wizardry this year.’ Harry Potter’s summer has
included the worst birthday ever, doomy warnings from a house-elf called
Dobby, and rescue from the Dursleys by his friend Ron Weasley in a
magical flying car! Back at Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry
for his second year, Harry hears strange whispers echo through empty
corridors — and then the attacks start. Students are found as though
turned to stone… Dobby’s sinister predictions seem to be coming true.
This gift edition hardback, presented in a beautiful foiled slipcase
decorated with brand new line art by Jonny Duddle, will delight readers
as they follow Harry and his friends through their second year at
Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry.



Menurut Farah Tentang Buku Ini

Menamatkan buku kedua dari seri Harry Potter ini
merupakan bentuk realisasiku terhadap salah satu “resolusi” tahun baru 2019.
Ya, terlalu ambisius memang kalau menargetkan untuk menyelesaikan ke-7 buku
dalam seri di tahun yang sama. Apalagi kalau kau juga berniat untuk mengoleksi
seluruh buku fisik dari serinya. Meskipun jauh dalam hati ingin, aku tidak bisa
mengalokasikan semua danaku untuk Harry dkk semata. Ada berbagai buku lain
yang juga menarik hatiku tentu saja
. Sejauh ini, aku harus berpuas diri
baru benar-benar membaca petualangan Harry sampai buku ke-3. Dalam
postingan ini, aku akan berbagi cerita tentang pengalamanku membaca Harry
Potter & The Chamber of Secrets,
yang lebih serius dan semakin
“berbahaya” kalau dibandingkan dengan buku pendahulunya.

           
Tahun ke-2 di Hogwarts tidak berawal mulus untuk Harry Potter. Keluarga Dursley
masih tetap dalam sikap semena-mena mereka, musim panas bergulir tanpa satupun
surat dari teman-teman Hogwarts-nya, dan ulang tahun ke-12 pun Harry lalui
tanpa banyak kejadian berarti. Ketika Dobby si house elve mendadak
muncul di kamar tidur Harry & membawa peringatan pada waktu yang
tidak tepat, Harry terancam tidak bisa kembali ke sekolah tahun itu. Apa yang
membuat Dobby mengerahkan segala macam cara agar bisa menghalangi Harry kembali
ke Hogwarts yang sudah seperti rumah untuknya ini?

           
Sebagai seseorang yang membaca seri ini di usia yang memasuki kepala dua, sudah
menyaksikan versi film adaptasinya terlebih dahulu, dan kurang lebih sudah tahu
apa yang akan dan tidak akan terjadi dalam cerita Harry, aku masih tetap dibuat
kagum dengan dunia ajaib yang dibuat J.K Rowling ini. Semua prior knowledge yang
aku punya tentang the wizarding world bahkan tidak menghalangiku untuk
tetap terkagum-kagum bersama Harry yang belum genap 2 tahun mencicipi
“keajaiban” dunia sihir. Kenyataan ini lagi-lagi membuktikan bagaimana lihainya
Rowling dalam membangun dunia fantasi yang tidak pernah meninggalkan
pembacanya. Harry Potter & The Chamber of Secrets tetap menjadi
bacaan menarik yang bisa dinikmati oleh pembaca dari berbagai usia.

           
Ancaman kebangkitan Voldemort mulai begitu nyata dan serius dalam Harry
Potter & The Chamber of Secrets
. Aku bisa membayangkan bagaimana
terkejutnya para pembaca awal novel ini ketika sampai pada twist tentang
siapa yang membuka chamber of secrets dan bagaimana ruangan
yang legendaris tanpa pernah ditemukan ini dibuka. Pengetahuan umumku tentang
petualangan the golden trio memang membuat hal-hal yang terjadi dalam
novel ini tidak “semengejutkan” yang seharusnya dirasakan oleh pembaca yang
sama sekali tidak tahu apa-apa. Akan tetapi, aku tetap dibuat takjub dengan
ketelitian Rowling dalam membangun berbagai lapisan dalam semesta wizarding
world
. Ya, aku memang sudah tahu dengan nasib yang menanti berbagai
karakter ini dalam buku selanjutnya. Namun, aku tetap tidak berhenti terpana
ketika sadar bahwa ada beberapa hint tentang masa depan tokoh-tokoh ini
yang sudah Rowling foreshadowing di buku-buku awal serialnya.

           
Sebagai buku pembuka, Harry Potter & The Philosopher’s Stone sukses
menjadi buku perkenalan yang “menyihir” pembacanya untuk ikut terpana bersama
Harry Potter ketika dihadapkan dengan segala hal baru yang ditawarkan oleh
dunia sihir. Di sisi lain, Harry Potter & The Chamber of Secrets berhasil
menjadi buku lanjutan yang menawarkan petualangan lebih “liar” dan nyata
daripada The Philosopher’s Stone. Beberapa hal serius dan mengerikan
memang sudah terjadi dalam buku pertama serial Harry Potter ini. Akan tetapi,
setelah membaca Harry Potter & The Chamber of Secrets-lah aku mulai
merasakan bagaimana seriusnya ancaman yang dimiliki Voldemort dan pengikutnya
serta betapa suramnya masa depan yang menanti Harry di dunia magis yang seperti
rumah untuknya ini.

Tentang Versi Novel Vs. Versi Film Adaptasi

           
Membaca novel 384 halaman ini membuatku menyadari berbagai detail yang aku
lewatkan ketika sebatas menyaksikan versi film adaptasinya saja. Detail tidak
terbatas yang ditawarkan oleh versi novel Harry Potter & The Chamber of
Secrets
juga membuat beberapa hal tentang petualangan Harry menjadi lebih
jelas dan masuk akal dalam pikiranku. Versi film adaptasi dari Harry Potter
& The Chamber of Secrets
terkadang memang terasa “melompat-lompat” di
beberapa bagian. Film adaptasi ini tidak semulus novel sumbernya yang terasa
begitu mengalir dari awal sampai akhir. Tidak mengherankan memang kalau pembaca
yang memutuskan menyaksikan versi film adaptasi merasa sedikit kecewa. Ini
terkadang membuatku mensyukuri kenyataan bahwa aku membaca seri buku ini
belakangan setelah menyaksikan seluruh film adaptasinya. I oddly save myself
from disappointment somehow
.

           
Sama seperti sebagian besar pembaca lain yang buku favoritnya diadaptasi
menjadi film, aku sering kali merasa kecewa ketika satu bagian “wow” dari
sebuah buku justru dihilangkan/tidak dimasukkan ke dalam film. Akan tetapi, ada
momen langka lain ketika beberapa hal menjadi “lebih baik” dalam medium film.
Momen ini aku rasakan ketika Netflix mengadaptasi novel Jenny Han, To All
The Boys I’ve Loved Before
. Entah kenapa aku lebih menyukai versi film
adaptasinya daripada novel sumber film bersangkutan. Maybe I just
grow out of Lara Jean type of stories? I don’t know.

           
Dalam kasus Harry Potter & The Chamber of Secrets sendiri, aku
mengapresiasi bagaimana versi film adaptasinya men-tone down
kecenderungan narsistik Gilderoy Lockhart. Pada awalnya, aku merasa bahwa
Lockhart-versi-film dengan rasa percaya diri tinggi yang terkadang tidak pada
tempatnya sudah lumayan menyebalkan. Ternyata Lockhart-versi-novel jauh lebih
membuat geli dan kesal lagi daripada karakternya di film. Pada akhirnya,
Lockhart dalam kedua versi ini memang sama-sama dipenuhi omong kosong. Rasa
sebalku memang menandakan bagaimana menyakinkannya Lockhart ditulis sebagai
sebuah karakter. Tetap saja, aku tidak keberatan kalau kita harus say good
bye
dengan karakter ini secepatnya. He’s not necessarily a bad person
maybe, still I prefer not to be around him any longer
. Sampai sekarang aku
sungguh masih bertanya-tanya bagaimana dia bisa terpilih untuk mengisi posisi
professor Defence Againts Dark Arts (DADA) di Hogwarts.

             
Kalau kau sama sepertiku & tidak kunjung membaca serial Harry Potter sampai
saat ini, aku ingin menyemangatimu untuk mulai membaca rangkaian 7 novel ini! It’s
really worth it eventhough you already watch the film adaptation first!

Baca Juga Artikel Di Bawah Ini

Ulasan Harry Potter & The Philosopher’s Stone

Rating

4/5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *