[Diperbaharui: 13/05/19] Tentang They Called Me Wyatt Karya Natasha Tynes


But let me tell you, what came after death was worse than falling.

Informasi Buku 

Judul: They Called Me Wyatt
Penulis: Natasha Tynes 
Penerbit: California Coldblood Book (Imprint of Rare Bird Books) 
ISBN:
9781947856752
 
Tahun
publikasi: 2019 (Juni)
Jumlah
halaman: 238 halaman
Buku: E-book (eARC dari Netgalley) 
Bahasa:
Inggris
 
Kategori
umur: adult
 
Temukan
buku ini di Goodreads

Blurb

When Jordanian student
Siwar Salaiha is murdered on her birthday in College Park, Maryland, her
consciousness survives, finding refuge in the body of a Seattle baby
boy. Stuck in this speech delayed three-year old body, Siwar tries but
fails to communicate with Wyatt’s parents, instead she focuses on
solving the mystery behind her murder. Eventually, her consciousness
goes into a dormant state after Wyatt undergoes a major medical
procedure.

Fast-forward twenty-two years. Wyatt is a
well-adjusted young man with an affinity towards the Middle East and a
fear of heights. While working on his graduate degree in Middle Eastern
studies, Wyatt learns about Siwar’s death, which occurred twenty-five
years ago. For reasons he can’t explain, he grows obsessed with Siwar
and spends months investigating her death, which police at the time
erroneously ruled as suicide. His investigation forces him to open a
door he has kept shut all his life, a spiritual connection to an unknown
entity that he frequently refused to acknowledge. His leads take him to
Amman, Jordan where after talking to her friends and family members and
through his special connection with the deceased, he discovers a clue
that unravels the mystery of her death. Will Siwar get justice after
all?

Menurut Farah Tentang Buku Ini

Updated 13/05/19 – Aku Memindahkan They Called Me Wyatt ke dalam 
Kategori Buku No-Rating
Natasha Tynes, penulis dari novel spekulatif They Called Me Wyatt, saat ini tengah berada di bawah sorotan tajam publik akibat tindakan kurang terpuji yang dilakukannya pada 11 Mei 2019. Untuk informasi lebih lengkap terkait peristiwa ini, silakan membaca artikel dari USA Today dan The Washington Post berikut.
Sikap kurang patut yang ditunjukkan penulis semakin menurunkan rasa simpatiku terhadap novel debut yang sebenarnya memang tidak terlalu aku nikmati ini. Aku sudah menghapus rating untuk They Called Me Wyatt di situs Goodreads. The reviews section of this novel is a mess honestly.
Kombinasi fakta di atas akhirnya membuatku memutuskan untuk memindahkan They Called Me Wyatt ke tempat paling “sunyi” di blog ini; Pojokan No-Rating (populasi saat ini resmi menjadi: 2).
Aku benar-benar tidak bisa merekomendasikan novel ini kepada siapa-siapa setelah segala hal yang terjadi. 

*And… I don’t think they will release this book after what happened either* 

 
***



Pernahkah kau bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi
setelah kematian?

Pada malam ulang tahunnya yang ke-25, kematian adalah
hal terakhir yang ada di benak Siwar. Siwar semestinya berbahagia malam itu.
Impian dan harapannya sedikit demi sedikit mulai terwujud. Keinginannya untuk keluar
dari Jordania, tempat dimana dia merasa terkekang, sudah tercapai. Impiannya untuk
menjadi seorang penulis mulai menjadi nyata setelah dia berhasil menjadi
mahasiswi creative writing di Amerika
Serikat. Siwar juga tidak lagi ditekan terus-menerus oleh orang tua, keluarga,
serta lingkungannya untuk menjadi seseorang yang mereka mau. Segala kebebasan
ini sayangnya tidak kunjung membawa kepuasan dalam hati Siwar.

Tidak peduli apa yang dia lakukan, Siwar tidak pernah
merasa fitting dan belong dimana pun dia berada. Ketika
kematian menjemput malam itu, jiwa Siwar malah terperangkap dalam tubuh Wyatt, seorang
bayi laki-laki yang lahir tepat ketika dia meregang nyawa. Dalam rentang waktu 2
dekade berikutnya, kita akan melihat perjuangan Siwar untuk menuntut keadilan
atas kematiannya malam itu. Apakah keadilan bisa dicapai dengan kondisi Siwar
yang terperangkap dalam tubuh Wyatt ini?    

Kesan pertama yang muncul ketika aku mulai membaca They Called Me Wyatt adalah hawa
futuristik ala kisah science fiction
dalam novelnya. Setelah dipikir-pikir lagi, kisah Siwar terlalu realistis dan
kontemporer untuk dikelompokkan sebagai science
fiction
. Di lain sisi, fakta bahwa Siwar “hidup” dan ada dalam diri Wyatt
membuat novel ini terasa memiliki unsur magical
realism
tanpa benar-benar menjadi buku magical
realism
. Novel ini membuatku sadar bahwa ada kelompok besar untuk buku
dengan karakterikstik “ajaib” semacam ini.

Meskipun pernah beberapa kali mendengar istilah speculative fiction, aku tidak pernah tahu
makna pasti dari istilah ini. Menurut Wikipedia, speculative fiction dapat didefinisikan
sebagai genre yang menjadi “payung” untuk kisah fiksi yang memiliki elemen
cerita yang tidak ada dalam dunia nyata seperti elemen supernatural, futuristik,
atau imaginatif. Dari definisi ini, dapat kita simpulkan bahwa science fiction atau magical realism berada di bawah payung genre
ini. They Called Me Wyatt sendiri memiliki
elemen magis dan futuristik dalam ceritanya tanpa benar-benar bisa digolongkan
dalam satu genre spesifik. Oleh karena itu, novel ini akhirnya dikelompokkan
dalam speculative fiction.

Good Things About This Novel

Menggunakan sarana speculative
fiction
untuk mengupas isu tentang identitas dalam cerita Siwar dan Wyatt
ini adalah ide menarik dan segar. Aku benar-benar tidak sabar ingin mengetahui apa
yang akan terjadi selanjutnya dalam novel ini. Gaya penulisan Natasha Tynes
yang begitu mengalir juga membuat  They Called Me Wyatt menjadi bacaan page-turner. Aku bahkan menyelesaikan 50%
novel ini hanya dalam sekali duduk saja.

Sebagai sebuah karakter, Siwar boleh dikatakan lumayan relatable. Pada satu titik dalam hidup,
setiap orang boleh dibilang pernah melalui dilema yang dirasakan Siwar ketika
tumbuh besar. Pembaca yang tumbuh di lingkungan masyarakat yang rigid dan kaku
bisa sedikit banyaknya relate dan
paham dengan kecenderungan Siwar untuk membangkang. Di paruh awal novel,
pembaca akan dibawa flashback dan
mengikuti narasi Siwar tentang perjalanannya menemukan diri dan menerima identitas.

Seperti yang sempat aku singgung dalam postingan Monthly Reading List bulan Maret kemarin,
Aku sangat relate dengan bagian
ketika Siwar mengatakan bahwa dia tidak pernah benar-benar merasa fitting dan belong dimana saja. Walaupun Siwar yakin bahwa Jordania adalah
tempat dia kembali (place where she’s
belong
), gadis ini tidak pernah benar-benar cocok (fitting) di sana. Ini
bisa kita lihat dari deskripsi Siwar tentang perilakunya yang sering kali “melawan”
norma. Di Amerika Serikat sendiri, Siwar akhirnya merasa cocok (fitting) dengan lingkungan sekitarnya.
Akan tetapi, statusnya sebagai imigran pendatang yang notabene-nya adalah orang
asing membuat Amerika Serikat tidak pernah benar-benar menjadi tempat dia belong. Pergolakan batin Siwar ini begitu
menarik ketika dibaca. Saking menariknya, aku hampir dibuat lupa bahwa novel
ini seharusnya juga merupakan novel murder
mystery
(bukan novel self-discovery atau
semacamnya).

Not-So-Good Things About This Novel

Aku pun mulai sadar bahwa untuk ukuran novel murder mystery, pacing novel They Called Me
Wyatt
terbilang lambat. Setelah menghabiskan paruh awal buku dengan cerita
dari sudut pandang Siwar, pembaca akhirnya membaca narasi dari sudut pandang
Wyatt, si anak laki-laki tempat jiwa Siwar terperangkap. Di paragraf awal aku
memang sempat menjelaskan bagaimana relatable-nya
Siwar sebagai sebuah karakter. Akan tetapi, seiring dengan berakhirnya novel
ini dan setelah membaca sudut pandang Wyatt, entah kenapa Siwar berubah menjadi
karakter ambigu yang dipertanyakan secara moral. Dia tidak terlalu likeable lagi (aku bahwa sempat menganggap dia annoying di beberapa bagian).

Beberapa keputusan yang Siwar ambil ketika berada dalam
tubuh Wyatt benar-benar membuatku geleng-geleng kepala dan miris sendiri. Di
satu sisi, aku memang kasihan dengan kondisinya yang terperangkap dalam tubuh
orang lain. Di sisi lain, aku juga merasa kasihan pada Wyatt yang seolah-olah
tidak pernah “benar-benar” punya kuasa atas tubuh dan keputusannya sendiri. Meskipun
terusik secara moral, aku masih bisa mengapresiasi upaya Natasha Tynes dalam
mengupas tema tentang identitas diri dengan cara ini. Akan tetapi, masih ada beberapa alasan
lain yang membuat They Called Me Wyatt
berubah dari bacaan 4 bintang menjadi 2,5-3 bintang untukku.

Pacing yang
lambat benar-benar mempengaruhi pengalamanku membaca bagian penutup novel.
Setelah terasa begitu mengalir di paruh awal, keputusan penulis untuk mulai memecahkan
misteri kematian Siwar hanya di paruh akhir novel malah membuat They Called Me Wyatt terasa ditutup
dengan terburu-buru. Pengalaman membacaku juga menjadi tidak terlalu enjoyable lagi karena tiba-tiba ada
begitu banyak hal yang berusaha penulis masukkan ke dalam beberapa halaman terakhir
novel. Pemecahan misteri yang terburu-buru juga membuat twist yang harusnya mengejutkan pembaca malah menjadi biasa saja.
Kalau kau adalah seorang penggemar berat novel murder mystery, mungkin kau akan kecewa dengan bagaimana bagian murder mystery di-handle dalam novel 238 halaman ini.

Ada beberapa dialog di paruh akhir novel yang sepertinya tidak terlalu perlu. Beberapa karakter malah bercakap dan berdebat tentang
hal tidak penting tanpa alasan yang jelas. Aku sebal sendiri setelah membaca
bagian ini karena karakter yang bersangkutan berubah menjadi annoying
dalam benakku.

In Conclusion

Terlepas dari bagian penutup novel yang mengecewakan
(apalagi kalau dibandingkan dengan bagian awal novel yang sungguh menarik), They Called Me Wyatt tetap menjadi
bacaan yang fresh untuk mengawali
bulan April ini. Lewat perubahan terhadap pacing
cerita, aku yakin They Called Me
Wyatt
dapat menjadi bacaan yang lebih enjoyable
lagi.

Kalau kau mencari novel yang mengupas isu identitas lewat
cara dan gaya penceritaan yang anti-mainstream,
They Called Me Wyatt boleh jadi
merupakan bacaan yang cocok untukmu.

Artikel Lain Yang Ada Dalam Tulisan Ini

(1) Speculative Fiction (dalam Wikipedia)

Rating

2,5/5 (dibulatkan menjadi 3 dalam ulasanku di Instagram, Goodreads, & Netgalley) No-Rating

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *