[31/07/19] Tentang Harry Potter & The Deathly Hallows Karya J.K. Rowling

“Of course it is happening inside your head, Harry, but why on earth should that mean that it is not real?”



Informasi Buku 
Judul: Harry Potter and the Deathly Hallows 
Penulis: J.K. Rowling 
Penerbit: Bloomsbury Publishing 
ISBN: 978140889476743
Tahun publikasi: 2018 (pertama kali dipublikasikan tahun 2007 dalam Bahasa Inggris) 
Jumlah halaman: 640 halaman 
Buku: milik pribadi 
Bahasa: Inggris
Kategori umur: young adult 
Temukan buku ini di Goodreads


Blurb


Harry Potter is leaving
Privet Drive for the last time. But as he climbs into the sidecar of
Hagrid’s motorbike and they take to the skies, he knows Lord Voldemort
and the Death Eaters will not be far behind.

The protective charm
that has kept him safe until now is broken. But the Dark Lord is
breathing fear into everything he loves. And he knows he can’t keep
hiding.

To stop Voldemort, Harry knows he must find the remaining Horcruxes and destroy them.

He will have to face his enemy in one final battle. – Goodreads.





Menurut Farah Tentang Buku Ini


Tulisan ke-5 dan terakhir dalam rangkaian Harry Potter 5-Days Review Marathon.
Kenyataan bahwa The
Deathly Hallows
merupakan buku terakhir dalam seri Harry Potter entah kenapa terasa surreal saat aku menulis ini. Entah karena aku menghabiskan lima
hari terakhir meraba hati & menguras otak untuk menulis ulasan-ulasan ini. Entah
karena aku memang baru saja menamatkan novel ke-7 dari canon Harry Potter dan merasa hilang di momen
sesudahnya. Who knows? Lucunya, perasaan surreal ini
tidak langsung muncul ketika baru menamatkan buku tersangkutan. Perasaan ini baru
benar-benar mengendap ketika aku duduk dan menulis ini.



Mungkin ini adalah alasan kenapa aku segan menulis
ulasan beberapa buku. Mungkin aku sekedar belum siap berhadapan dengan emosi
yang dipicu buku itu (atau dalam banyak kasus, murni karena rasa malas).
Kalau diingat lagi, rasa segan & ingin menghindar memang bukan hal asing
dalam perjalananku membaca seri Harry
Potter
. Aku mengulur-ngulur waktu ketika memulai The Goblet of Fire karena tidak yakin dengan cerita macam apa yang
akan aku temui. Aku kembali melakukan ini di tengah-tengah buku The Order of the Phoenix (menghindari buku ke-5 ini disponsori oleh rasa frustasi alih-alih rasa tidak pasti ala
buku ke-4).



Membaca The
Deathly Hallows
memunculkan perasaan yang sama. Mungkin karena buku ini
adalah buku tentang perang. It’s hard
reading about war (most of the time at least)
. Lucunya, aku sebenarnya sudah familiar tentang bagaimana kisah ini akan bergulir dan bagaimana dia akan berakhir. There’s no surprise left for me. Jadi,
kenapa aku masih dilanda keinginan untuk menghindar dari fakta yang tidak bisa
dihindari ini? Pada akhirnya, motivasiku untuk menyelesaikan The Deathly Hallows datang dari ulang
tahun ke-39 Harry dan Harry Potter 5-Days Review Marathon! yang jatuh
& berakhir pada 31 Juli. Motivasi yang tidak biasa mengingat aku melakukan semua
ini atas nama reading for pleasure. Well..



Seperti yang sudah terlihat dari tulisanku pada 3
paragraf di atas, ada banyak hal yang menggelitikku pasca The Deathly Hallows dan aku ragu harus mulai dari mana. Mengikuti
jejak dalam ulasan untuk The Half-Blood Prince aku akan menumpahkan pikiran-pikiran random ini dalam
beberapa poin;



·      
The Weird
Humor Is Still There


Sepertinya ignorance
membuatku baru menyadari keberadaan humor tidak biasa ala Rowling di buku
ke-6 (atau mungkin selera humorku saja yang aneh?). Humor semacam ini
bisa jadi sudah tersebar mulai dari buku pertama tapi luput dari perhatianku. Terlepas
dari muatan cerita serius, ada terselip beberapa kalimat atau momen ringan
mengundang senyum. Pada bab pertama yang lumayan mengerikan, aku tersenyum
kecil ketika Snape & Yaxle bersinggungan dengan burung merak albino penghuni Malfoy Manor.


There
was a rustle somewhere to their right: Yaxley drew his wand again, pointing it
at his companion’s head, but the source of the noise proved to be nothing more
than a pure white peacock, strutting
majestically
along the top of the hedge.‘
He always did himself well,
Lucius. Peacocks…’ Yaxle thrust his wand back under his cloak with a snort.”  


(*) Honestly? I’m
snorting along with Yaxle on this one
. My
weird sense humor just find the whole keeping white peacocks on your yard
business as absurd (if not funny
).



Satu momen ringan lain (yang aku
ingat dan tandai) adalah momen ketika Lupin membawa kabar kelahiran Teddy dan
menobatkan Harry sebagai godfather;


“He
[Harry] seemed set on course to become just as reckless a godfather to Teddy
Lupin as Sirius Black had been to him.”*

(*) Harry just finish planning for
the Gringotts raid this time around
.
·      
Things I Just Realize; Hallows vs. Horcrux Dilemma
Aku tidak bisa mengingat Harry melalui dilema ini
dalam camping-trip tanpa tujuannya di
film. Dilema ini lumayan membekas di ingatanku meskipun masih ada beberapa
bagian yang belum aku mengerti sepenuhnya. The
I-am-not-so-sure-Harry-moments
muncul kembali. Di satu poin, Harry memang
mengembangkan obsesi tidak sehat untuk menemukan Hallows (karena minimnya
kemajuan mereka dalam menghancurkan horcrux). Aku seolah bernostalgia ke buku 6
ketika Harry mencurigai (+ terobsesi) pada Malfoy & firasat Harry terbukti
benar. Aku tidak bisa menyalahkan sikap skeptis Hermione karena ketika
terobsesi, Harry memang sering kali lupa daratan karena terlampau fokus pada
tujuan yang ingin dia capai.
·      
Change of Hearts; Kreacher’s Tale
Di akhir cerita, aku sudah memperkirakan akan ada perubahan
dalam hal bagaimana aku memandang suatu karakter. Kenyataannya, aku tetap tidak
bisa memutuskan perasaan dan pendapatku terkait Snape & Dumbledore. They are a hopeless case for me. Satu-satunya
perubahan sudut pandang signifikan terjadi pada karakter
non-penyihir dalam buku ini; Kreacher, si House Elves.
Aku masih tidak bisa melupakan hal
yang Kreacher perbuat dalam The Order of
the Phoenix
. Di saat yang bersamaan, ada gema kebenaran dalam kata-kata Dumbledore
ini;

“`Sirius
did not hate Kreacher,’ said Dumbledore. ‘He regarded him as a servant unworthy
of much interest or notice. Indifference and neglect often do much more damage
than outright dislike… the fountain we destroyed tonight told a lie. We wizards
have mistreated and abuse our fellows for too long, and we are now reaping our
reward.’





Meskipun agak tertohok di bagian ini,
sikap Kreacher yang masih kurang menyenangkan di buku-6 membuat rasa kurang
sukaku semakin persisten. Dalam The
Deathly Hallows
, bab Kreacher’s Tale mengubah
total caraku memandang house elves yang
satu ini  setelah mendengar perjalanan macam apa
yang dia lalui bersama Regulus Black. I
can’t believe I have to hear a horrible story first before I realize how
Kreacher deserve some respects.
Lesson
learned.



·      
Recurring Things From The Past; Harry &
Hermione Duo
Sepertinya yang sudah aku perkirakan
dalam ulasanku untuk The Order of The Phoenix, duo Harry&Hermione kembali muncul
dalam buku ke-7. Hal yang sangat berbeda kali ini adalah bagaimana mood suram mewarnai perjalanan mereka berdua.
Not the finest moments of this duo of
course.
Dalam novel, duo ini sangat bermuram-durja bahkan cenderung
sengsara pasca ditinggal Ron. Dalam versi film adaptasi sendiri, bagian ini
disulap menjadi momen bittersweet dalam
pertemanan Harry&Hermione. Perubahan ini akhirnya menghasilkan salah satu
scene favorit sepanjang masaku dari Harry
Potter
.
·      
On the Film Version; Memorable Moments For Me
Sejujurnya banyak hal tentang 2 film yang diangkat
dari novel The Deathly Hallows terasa
kabur di ingatanku sekarang. Aku tidak bisa mengingat detail tentang kedua film
ini. Berbeda dari dua film pendahulunya yang (di mataku) masih kaya akan warna,
film adaptasi The Deathly Hallows is as
bleask as a war movie
. It just a
never ending gray color
.
Di sisi lain, ada 3 momen dalam 2 film
ini yang tidak lenyap dari ingatanku;
[1] The Tale of 3 Brothers moment; Aku sangat mengagumi versi
animasi cerita ini.
[2] Harry&Hermiones di Godric Hollows; the whole scene just feels magical and
bittersweet,

[3] Harry&Hermione berdansa di dalam tenda; bagian ini memang tidak ada dalam
novel. Still, it’s truly a good addition
in my opinion
. Ketika scene ini
muncul dalam film, emosi yang dipicu dari oleh lagu yang mengiringi dance mereka lagi-lagi memicu perasaan bittersweet. Ketika tarian mereka berakhir;  penonton tahu bahwa ini tidak mengubah
apa-apa & kondisi mereka masih jauh dari kata baik. Hanya rasa bitter yang tertinggal. Fakta menohok
inilah yang membuat scene ini sulit
lenyap dari ingatanku.
Happy 31 July & Happy birthday Happy Potter!

Happy birthday Harry Potter! From learning yer a wizard to finding true friends, and realising that your parents will be with you #always – here are just some of our favourite Harry moments. 🎉🎂🎁#HappyBirthdayHarryPotter pic.twitter.com/IVe8sjn5RP

— Bloomsbury UK (@BloomsburyBooks) July 31, 2019

Rating
4,5/5
 

Ternyata Pottermore
juga memiliki beberapa momen favorit yang sama denganku dalam berbagai seri Harry
Potter.
Lihat selengkapnya dalam kiriman Pottermore untuk
memperingati ulang tahun ke-39 Harry
.


— Pottermore (@pottermore) July 31, 2019

Daftar
lengkap dari ulasan untuk seri novel Harry Potter dalam Far’s Books Space dapat
dilihat dalam kiriman ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *