[31/07/19] Tentang Harry Potter & The Half-Blood Prince Karya J.K. Rowling

But for heaven’s sake – you’re wizards! You can do magic! Surely you can sort out – well – anything!”

Informasi Buku 
Judul: Harry Potter and the Half-Blood Prince
Penulis: J.K. Rowling 
Penerbit: Bloomsbury Publishing 
ISBN: 9781408894767 
Tahun publikasi: 2018 (pertama kali dipublikasikan tahun 2005 dalam Bahasa Inggris) 

Jumlah halaman: 560 halaman 
Buku: milik pribadi 
Bahasa: Inggris
Kategori umur: young adult
Temukan buku ini di Goodreads


Blurb

When Harry Potter and
the Half-Blood Prince opens, the war against Voldemort has begun. The
Wizarding world has split down the middle, and as the casualties mount,
the effects even spill over onto the Muggles. Dumbledore is away from
Hogwarts for long periods, and the Order of the Phoenix has suffered
grievous losses. And yet, as in all wars, life goes on.

Harry,
Ron, and Hermione, having passed their O.W.L. level exams, start on
their specialist N.E.W.T. courses. Sixth-year students learn to
Apparate, losing a few eyebrows in the process. Teenagers flirt and
fight and fall in love. Harry becomes captain of the Gryffindor
Quidditch team, while Draco Malfoy pursues his own dark ends. And
classes are as fascinating and confounding as ever, as Harry receives
some extraordinary help in Potions from the mysterious Half-Blood
Prince.

Most importantly, Dumbledore and Harry work together to
uncover the full and complex story of a boy once named Tom Riddle—the
boy who became Lord Voldemort. Like Harry, he was the son of one
Muggle-born and one Wizarding parent, raised unloved, and a speaker of
Parseltongue. But the similarities end there, as the teenaged Riddle
became deeply interested in the Dark objects known as Horcruxes: objects
in which a wizard can hide part of his soul, if he dares splinter that
soul through murder.

Harry must use all the tools at his disposal
to draw a final secret out of one of Riddle’s teachers, the sly Potions
professor Horace Slughorn. Finally Harry and Dumbledore hold the key to
the Dark Lord’s weaknesses… until a shocking reversal exposes
Dumbledore’s own vulnerabilities, and casts Harry’s—and
Hogwarts’s—future in shadow. – Goodreads.

Menurut Farah Tentang Buku Ini

Selamat membaca tulisan ke-4 dalam rangkaian
Harry Potter 5-Days Review Marathon!
Sorry
for the delay but life happens I guess.
Spoilers
will be present on this post. So proceed with caution!
Mengikuti jejak The
Prisoner of Azkaban yang aku tamatkan
dalam sekali duduk, The Half-Blood Prince
menjadi sequel lain dalam seri Harry Potter yang aku lahap dalam durasi terbilang
singkat (hanya 1,5 hari). Meskipun tidak setebal The Order of The Phoenix, buku ke-6 ini tetap sarat akan plot poin penting serta twist mengejutkan nan memorable. Tidak hanya itu saja, The Half-Blood Prince juga diwarnai oleh
“humor” yang terselip di tengah-tengah narasi cerita serius dengan
tema seperti; kilas balik ke masa
lalu Voldemort, percobaan pembunuhan yang untungnya gagal, dan latar
belakang di balik kematian orang tua Harry. Kombinasi humor tidak biasa, drama
remaja, dan kemajuan cerita yang serius/suram tanpa sepenuhnya membuat lelah
membuat novel ini menjadi novel favorit keduaku setelah The Prisoner of Azkaban.
Ada banyak aspek yang menggelitik-ku setelah membaca The Half-Blood Prince. Sering kali
aspek-aspek ini tidak senantiasa berhubungan antar satu dengan lain. So, I’ll write my thoughts on bullet point
format for the sake of clarity
.
·      
The Weird
Humor of The Half-Blood Prince
Setelah diteror dengan bab pembuka nightmarish dalam The Goblet
of Fire
(feat. Pembunuhan muggle tidak berdosa oleh Voldemort) dan
The Order of The Phoenix (feat. Serangan dementor yang (lagi-lagi) melibatkan muggle), The Half-Blood
Prince
dibuka dengan bab ringan dan terbilang lucu. Dituturkan dari sudut
pandang perdana menteri muggle, bab
satu memang jauh dari kata bahagia karena membahas bagaimana kebangkitan Dark Lord memiliki andil besar peristiwa-peristiwa
buruk yang marak di komunitas muggle belakangan.
Pembaca bisa sedikit lega dan tersenyum kecil karena muggle yang satu ini masih kesulitan menerima bahwa sihir itu nyata.

But for heaven’s
sake – you’re
wizards! You can do magic! Surely you can sort out – well – anything!” – says a very dazed & confused muggle
prime minister.

Momen-momen komedi lain dalam The Half-Blood Prince secara langsung (mau pun tidak langsung)
juga disponsori oleh Potion Master teranyar
Hogwarts; Horace Slughorn. Mulai dari misi perekrutan Slughorn di awal novel (“He pushed past Harry, his face turned
resolutely with the air of a man trying to resist temptation”
), rangkaian
acara makan-makan canggung Slug Club
(feat. Smug Zabini
), Pesta Slughorn (feat.
Duo Harry & Luna), sampai bab legendaris ketika Harry akhirnya membujuk
Slughorn menggunakan Felix Felicis (that
chapter is comedic gold but turn
kinda bittersweet in the end
). Ironisnya, bab ikonik ini juga adalah bab
yang membahas kematian Aragog, acromantula
teman baik Hagrid. Entah kenapa kematian (atau hal-hal buruk lain) & humor kadang terasa tepat ketika berdampingan.
Di paruh awal The
Half-Blood Prince
, bab-bab serius memang diselingi oleh bab yang lebih
ringan dan kadang mengundang senyum. Hal ini tentu tidak berlaku lagi dalam
bab-bab akhir yang terasa seperti kombinasi klimaks sekaligus penutup cerita dengan
kesan tidak pasti dan suram.
·      
The
Ambigous Character(s)
Snape & Dumbledore adalah dua
karakter yang sudah masuk dalam daftar karakter ambigu secara moral versiku sejak
beberapa buku lalu. Snape sebenarnya bisa aku tolerir kalau dia tidak merisak
murid tanpa alasan. Perdebatannya dengan Bellatrix bahkan adalah salah satu highlight dalam The Half-Blood Prince menurutku. Iya, aku sadar akan masa lalu
macam apa yang Snape lalui. Apa ini
cara Snape menangani duka dan luka masa lalu? Bisa jadi, aku tidak ingin
menghakimi. Harus diingat juga bahwa Snape memiliki pilihan untuk bersikap
lebih baik pada anak-anak tidak
berdosa yang dia ajar. Sangat disayangkan saja ketika dia tidak memilih “bersembunyi”
di balik topeng antagonis ini.
Setelah The Half-Blood Prince, Narcissa Malfoy & Draco Malfoy mendadak
menduduki peringkat teratas dalam daftar karakter ambigu secara moral versiku.
Narcissa muncul dalam bab 2 (Spinner’s
End
) dan sangat memancarkan
persona seorang ibu tidak berdaya dan sangat khawatir akan takdir yang menimpa
anaknya. Aku agak kaget ketika beberapa bab kemudian sikapnya langsung berubah
total. Ketika bertemu dengan The Golden
Trio
di toko Madam Malkin, Narcissa menunjukkan wajahnya sebagai seorang
wanita pureblood yang elitist & snobbish (aka gaya tipikal
Keluarga Malfoy).
Untuk kasus Draco sendiri, sedikit
demi sedikit akan terlihat bagaimana
tekanan tinggi mulai menggerus keyakinan & kepercayaan diri Draco akan
harapan untuk era lebih baik di bawah kekuasaan Voldemort. Aku tidak habis
pikir dengan percobaan permbunuhan ceroboh yang dia coba lakukan. Namun,
sepertinya tidak adil untuk melabeli Draco sebagai seseorang yang pure evil. Draco masih punya penyesalan
dan rasa takut, dua hal yang absen dari villain
utama seri ini. Aku tidak menjustifikasi keputusan tidak bijak yang Draco
ambil tentu saja. Aku merasa prihatin saja karena seorang anak tumbuh di bawah
didikan keluarga yang “merusak” seperti ini. Aku mendapat kesan bahwa Draco begitu
haus akan penerimaan. Sayang sekali dia akhirnya mencari penerimaan ini
di jalan yang salah.
Di satu titik aku juga merasa bahwa
Horace Slughorn adalah karakter yang ambigu (at this point every slytherin is basically morally ambiguous, am I
stereotyping?
)
Apa ini karena sikap alami Syltherin-nya yang self-serving? Slughorn sendiri (mostly) tidak memiliki motif jahat di balik
sikapnya yang tanggap mencari untung untuk diri sendiri. Still, I don’t think I’ll
comfortable having friend like him
.
·      
The
Disturbing Flashbacks of Voldemort’s Past
Bagian ini sangat membekas dalam
ingatanku karena detail kisahnya yang begitu disturbing. Aku bergidik sendiri mengingat bab tentang Keluarga
Gaunt. Ada indikasi kalau sikap “alami” Voldemort yang tidak manusiawi (lagi)
berasal dari cela dalam genetika turun-temurun Keluarga Gaunt. I don’t know about genetics honestly. This feels
like a never ending nature vs. nurture debate all over again
. Namun, tidak
bisa dipungkiri bahwa Tom Riddle lahir dari orang tua yang mengalami trauma
berat karena kekerasan di masa kanak-kanak & tumbuh di keluarga
disfungsional. It’s horrible. Bagian
ini juga menunjukkan padaku bagaimana mentalitas superior bukanlah satu hal
yang patut untuk dipelihara.
·      
The
Teenage Angst (and Teen Friendships in general)
The
Half-Blood Prince
adalah puncak dari teenage
angst
dalam seri Harry Potter. Romance
is everywhere on this book (The jealously and will-they-won’t-they moments
become-tiring at times)
. Aku tidak punya pendapat khusus tentang
hal-hal romantis. It’s simply fine. Salah
satu hal yang aku kagumi dari seri Harry Potter adalah plot tentang pertemanan antar
karakter dalam berbagai novelnya. Sebagaimana aku memuji Luna Lovegood dalam
ulasanku untuk The Order of The Phoenix, aku akan melakukan ini lagi dalam ulasan The Half-Blood Prince karena dinamika
pertemanan Harry dan Luna yang menghangatkan hati. Bless Harry for taking
her to Slughorn’s party
. Lagi-lagi, Luna menjadi cahaya kecil di tengah
kegelapan yang menyelimuti The Half-Blood
Prince
.
The Enevitable Novel vs. Film Part
Di titik ini aku sadar bagaimana aku tidak terlalu
ambil pusing dengan aspek cerita/narasi dalam film-film Harry Potter. Beberapa
film memang lebih memuaskan daripada film lain. Akan tetapi, fokus utamaku
ketika menyaksikan film-film ini adalah pada visual yang ditawarkannya.
Sepertinya ini adalah efek dari tidak membaca novel dulu sebelum menyaksikan
film. Novel memang jauh lebih kaya untuk bahan imajinasi di kepala. Tetap saja, film-film
yang menjadi paparan pertamaku terhadap dunia Harry Potter ini tidak
menimbulkan kekecewaan berlebihan dalam hati.
The Prisoner of
Azkaban, The Half-Blood Prince
, dan The
Order of Phoenix
adalah holy trinity
film Harry Potter favoritku karena
visual yang mereka tawarkan. Warna biru dan tone tenang/cool mendominasi The Order of
Phoenix
. Kantor Prof. Umbridge bahkan di dominasi dengan warna pink
memuakkan (sama dengan penghuni kantornya). Ketika The Half-Blood Prince beralih didominasi warna gelap
(ungu/abu-abu) – it just fits. Setiap
kali scene yang melibatkan Draco
muncul, tone film otomatis
menjadi abu-abu dan kabur. Oscar sepertinya juga setuju karena The Half-Blood Prince mendapat nominasi dalam kategori Cinematography.
Aku juga mengamati perubahan yang dibuat untuk sub-plot
Draco. Alih-alih melihat penurunan kondisi yang drastis ala novel-Draco, Draco
dalam film sudah digambarkan kehilangan kepercayaan diri dan semangat dari
awal. Mengingat bagaimana film cenderung memangkas banyak hal, aku rasa
perubahan ini adalah keputusan cukup bijak. The
point is still there
.
Petualangan Felix Felicis Harry juga adalah bagian favoritku
dalam film. Ada 2 momen yang begitu jleb di
hati pada bagian ini;
1.    
Jleb karena lucu ketika Harry menjadi sangat goofy setelah meminum ramuan
keberuntungan & berpapasan dengan Slughorn di Green House.
2.    
Jleb karena sedih/miris ketika Slughorn berbagi cerita
tentang hadiah dari Lily (bagian ini tidak ada di novel but the acting is so good
& hit you right on the feels)
Satu hal yang (benar-benar)
tidak aku sukai adalah scene opening film
ini. I mean seriously? Of all the things
to choose you make Dumbledore cockblocking Harry?? That gorgeous waitress (and
Harry) deserve better than that.

Rating

4,5/5
Daftar lengkap dari ulasan untuk seri novel Harry Potter dalam Far’s Books Space dapat dilihat dalam kiriman ini.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *